Advertisement
Mataram - Langkah kaki Shofa Auliarahma di GOR UTP Surakarta pada pertengahan Mei 2026 lalu mungkin tampak sama dengan ratusan pesilat lainnya. Namun, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, FHISIP Universitas Mataram ini datang membawa fokus dan mentalitas yang berbeda. Di tengah riuh rendah teriakan penonton dan ketatnya tatapan dewan juri, Shofa bersiap menghadapi tantangan terbesar dalam karier pencak silatnya, bertanding di tiga kategori seni sekaligus pada ajang nasional "Ganesha Muda UTP Competition 1".
Bagi seorang pesilat, turun di tiga nomor berbeda dalam satu kompetisi adalah ujian fisik dan mental yang menguras energi. Di kategori Solo Creative, Shofa harus memeras imajinasi, menampilkan koreografi bebas yang dinamis berpadu dengan ayunan senjata tradisional. Belum sempat napasnya kembali normal, ia sudah harus berganti fokus pada kategori Tunggal, sebuah panggung yang menuntut presisi mutlak dan ketepatan gerakan jurus wajib yang kaku tanpa celah kesalahan sedikit pun. Tantangan kemudian bergeser pada kategori Beregu, di mana ego pribadinya harus diredam demi menyelaraskan ritme, rasa, dan kekompakan gerakan bersama rekan satu timnya.
Ketegangan di arena yang diikuti oleh sekitar 500 pesilat se-Indonesia itu akhirnya berbuah manis. Lewat kedisiplinan yang ditempa selama latihan dan ketangguhan mental di atas matras, Shofa berhasil menyisihkan para pesaingnya. Tidak tanggung-tanggung, podium pertama di ketiga kategori tersebut berhasil disapu bersih. Tiga medali emas yang dikalungkan di lehernya tidak hanya menjadi pembuktian personal, tetapi juga menjadi poin krusial yang mengantarkan kontingen Kota Mataram membawa pulang piala Juara Umum 2 untuk Kategori Dewasa.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa membawa pulang tiga medali emas," kenang Shofa dengan senyum lega. "Walaupun perjuangannya cukup berat karena harus turun di tiga nomor berbeda, hasil ini menjadi evaluasi dan penyemangat besar untuk target saya selanjutnya di PORPROV NTB 2026 dan PON 2028 kelak.”
Keberhasilan Shofa ini menggaungkan pesan kuat di koridor kampus FHISIP Unram. Ia menjadi contoh nyata bahwa dinding ruang kuliah bukan batasan untuk mengejar mimpi besar. Capaian gemilang di Surakarta tersebut kini berdiri sebagai mercusuar inspirasi bagi mahasiswa Universitas Mataram lainnya, membuktikan bahwa prestasi akademik dan non-akademik dapat berjalan beriringan, selaras dalam usaha mengharumkan nama almamater di tingkat nasional. (bar)
