Advertisement
MATARAM – Mengabdi selama lebih dari 30 tahun di sebuah institusi pendidikan tinggi bukanlah perjalanan yang singkat. Keteguhan hati itulah yang ditunjukkan oleh Rubai, seorang pegawai yang telah menjadi saksi hidup perkembangan Universitas Mataram (Unram). Lahir pada tahun 1976, pria yang kini bermukim di Dusun Onor, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat ini, memiliki rekam jejak pengabdian panjang yang penuh dengan lika-liku perjuangan.
Perjalanan karier Rubai dimulai jauh ke belakang. Ia mengawali pengabdiannya sebagai tenaga honorer sejak 30 tahun lalu di Fakultas Ekonomi Unram. Ia mengenang masa itu sebagai periode penuh tantangan, di mana ia menjadi salah satu dari pegawai kontrak baru yang merintis karier di Unram. Semangat untuk mengabdi di kampus sudah tertanam sejak awal, membawa dirinya berpindah tugas ke Perpustakaan Unram selama empat tahun, sebelum akhirnya menetap di Fakultas Hukum (FH) hingga saat ini.
Keteguhan hati dan kerja kerasnya membuahkan hasil manis ketika pada tahun 2008, ia resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sejak menyandang status abdi negara, tanggung jawabnya pun semakin berkembang. Rubai telah mengemban berbagai peran teknis, mulai bekerja dibidang umum, akademik, hingga keuangan. Setelah menapaki berbagai tanggung jawab penting tersebut, ia kini kembali dipercaya untuk mengabdi di bagian umum FHISIP Unram, posisi yang ia jalani dengan penuh dedikasi hingga detik ini.
Di balik kesibukan administratifnya di kampus, Rubai merupakan sosok ayah yang bersahaja bagi ketiga buah hatinya. Namun, di balik ketenangan yang ia tunjukkan saat bekerja, tersimpan kisah perjuangan pribadi yang mendalam. Ketika gempa besar mengguncang Lombok beberapa tahun silam, rumahnya hancur lebur. Meskipun telah menerima bantuan pemerintah secukupnya, proses pemulihan tempat tinggalnya di Dusun Onor ternyata tidaklah mudah dan masih menyisakan kendala hingga saat ini. Namun, beban hidup tersebut tidak memadamkan semangatnya, ia justru tetap tangguh mendedikasikan hidup bagi keluarga sekaligus institusi Unram yang dicintainya.
Meski menghadapi ujian hidup yang berat, ia tetap menyeimbangkan peran sebagai pelayan publik di kampus FHISIP Unram dengan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Bagi Rubai, bekerja selama lebih dari 30 tahun bukan sekadar mencari nafkah, melainkan ladang pengabdian bagi kampus tercinta. Pengalaman dari masa honorer hingga menjadi PNS di tahun 2008 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesabaran dan ketekunan.
Perjalanan panjang yang ia tempuh selama lebih dari 30 tahun menjadi inspirasi bagi banyak rekan kerja dan pegawai muda. Dedikasi yang konsisten, meski di tengah keterbatasan pribadi, membuktikan bahwa semangat untuk terus berkontribusi bagi institusi tidak pernah padam dalam diri seorang Rubai. Sebagai sosok yang sangat akrab dengan seluruh jajaran dosen FHISIP, Rubai selalu hadir dengan ketulusan dalam membantu berbagai keperluan akademik. Sikap hangatnya yang selalu menghibur rekan kerja menjadikan ia bukan sekadar staf administratif, melainkan bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan kampus FHISIP Unram. (bar)

.png)