Advertisement
Matahari
pagi menyepuh langit Kampus Unram, mengiringi riuh rendah langkah ribuan
wisudawan di pelataran Auditorium Universitas Mataram (Unram). Di antara lautan
toga hitam, buket bunga, dan gegap gempita suka cita, ada satu pemandangan haru
yang menyimpan keheningan paling bermakna. Di sana, Anggun Julia Andriami
berdiri menatap lekat pahlawan terbesarnya yaitu sang bapak.
Di arena Wisuda Anggun terus mendampingi bapaknya, berjalan beriringan tanpa pernah meninggalkan. Pemandangan itu menggetarkan hati siapa saja yang melihatnya. Sang bapak melangkah dengan tubuh yang tampak ringkih, mengenakan kain sarung, di luar baju batik yang ia kenakan menempel sehelai sarung tenun khas Sasak membungkus rapat badannya layaknya selimut, sebuah kebiasaan bersahaja yang begitu lekat dengan para orang tua Sasak. Dari keramaian pelataran Auditorium, mereka terus berjalan bersama, melewati rimbun pepohonan kampus hingga melangkah keluar menyusuri jalan di depan megahnya gedung Rektorat Unram.
Bagi wisudawati Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP itu, hari itu melampaui sekadar selebrasi akademik. Saat bapaknya melangkah mendekat, tidak ada kecanggungan, tidak ada drama yang berlebihan, yang ada hanyalah sebuah perjumpaan batin yang dalam tatapan teduh, senyum yang memancarkan kebanggaan murni, dan kasih sayang yang tumpah ruah di tengah keramaian.
Bapak hadir dengan segala kesederhanaannya. Di balik sosoknya, tersimpan riwayat panjang tentang perjuangan melawan keterbatasan fisik dan beban emosional yang tak pernah ia keluhkan. Kerutan di wajahnya dan tangannya yang menebal oleh kerasnya kehidupan adalah saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah pendidikan. Selama bertahun-tahun, bapak menelan lelahnya sendiri, menjadikan tubuhnya perisai agar putrinya bisa terus berjalan menembus cita-cita.
Saat tangan bapak yang penuh jejak perjuangan itu menyentuh pelan pundak Anggun yang kini terbalut toga kehormatan, waktu seolah berhenti berdetak. Di mata rentanya yang berkaca-kaca, tergambar sebuah kelegaan yang luar biasa. Ia mungkin tidak merangkai kata-kata puitis yang panjang, namun pelukannya mengalirkan ribuan doa dan rasa syukur yang tak mampu diutarakan oleh bahasa mana pun.
Bagi Anggun, gelar Sarjana Pendidikan yang kini disandangnya bukanlah sekadar tumpukan kertas bersampul tebal dengan stempel universitas. Lembaran itu adalah saksi hidup. Toga yang ia kenakan dirajut dari helai-helai doa bapak di sepertiga malam. Ijazah itu adalah wujud nyata dari sebuah janji yang dilunasi, kristalisasi dari air mata yang diam-diam disembunyikan, dan bukti dari cinta yang sukses menembus batas segala keterbatasan.
Hari itu, di bawah langit almamater Unram, Anggun tidak hanya merayakan kelulusannya sebagai seorang calon guru. Ia sedang memahkotai bapaknya dengan penghormatan tertinggi. Sebuah pembuktian manis bahwa dari cinta yang sunyi namun tak kenal menyerah, lahir sebuah masa depan yang terang.
Menepati Janji di Hari yang Sulit
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Baru saja kemarin, tepatnya 25 Juni 2025, Anggun kehilangan sosok paling berharga dalam hidupnya, sang ibu. Anggun masih ingat jelas gema suaranya saat detik-detik terakhir sang ibu, ketika ia berteriak dalam tangis, "Ibu, saya belum wisuda."
Ketakutan terbesar Anggun adalah tidak sempat mempersembahkan kebanggaan bagi orang tuanya. Namun, kehidupan memiliki cara untuk menguji keteguhan hati. Satu tahun berlalu, Anggun berdiri di sana, menjadi sarjana, meski sang ibu kini hanya bisa menyaksikan dari tempat terindah di sisi Tuhan.
Di sisinya, ada sang bapak yang kondisi kesehatannya sedang tidak baik. Namun, sakit bukanlah alasan bagi bapak untuk absen.
Cinta yang Mengalahkan Keadaan
Hari wisuda Anggun adalah sebuah drama perjuangan nyata. Mobil yang membawa keluarga besarnya mogok di tengah jalan. Mereka harus beralih ke taksi, duduk berdempetan, beradu dengan waktu agar tidak terlambat. Bahkan saat sampai di lokasi, gedung auditorium sudah penuh sesak.
Namun, di terop luar gedung, sang bapak tetap duduk dengan bangga. Meski tak bisa masuk ke dalam ruangan utama, kehadiran beliau adalah segalanya.
"Bapak bilang, meskipun saya harus pakai alat bantu, saya akan tetap hadir," kenang Anggun. Kalimat itu menjadi bahan bakar semangatnya. Ia menyadari satu hal, Bapaknya tidak datang untuk melihat seremoni, tapi untuk memastikan buah hatinya tahu bahwa ia tidak pernah berjuang sendirian.
Menjadi Sosok yang Bermanfaat
Anggun tidak hanya belajar dari buku teks di bangku kuliah. Ia belajar tentang kehidupan langsung dari keluarganya. Sang kakak yang menjadi pengganti ibu yang hangat, serta bapak yang mengajarkan bahwa "di saat kesulitan pasti ada kemudahan," telah membentuk Anggun menjadi pribadi yang tangguh.
Ada satu pesan bapak yang selalu ia pegang erat, "Lakukan apapun yang menurutmu baik dan tidak akan mengecewakan siapapun."
Prinsip ini berpadu sama dengan nasehat Rektor Unram Prof. Sukardi yang menjadi kompas hidup Anggun, "Keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak informasi yang didapat, tetapi seberapa besar dampak yang dihadirkan dalam kehidupan masyarakat."
Janji untuk Masa Depan
Kini, Anggun berdiri menatap masa depan. Ia membawa serta kenangan tentang ibunya, dukungan kakaknya, keceriaan keponakannya, dan perjuangan hidup bapaknya. Baginya, rasa sedih bukanlah penghalang, melainkan alasan untuk terus melangkah lebih jauh.
"Saya janji, saya akan selalu berusaha untuk tidak mengecewakan kalian. Saya akan berjuang memperbaiki ekonomi kita dan memastikan tidak ada lagi yang memandang rendah keluarga kami," ujar Anggun dengan penuh keyakinan.
Kisah Anggun mengajarkan kita bahwa kesuksesan yang sejati tidak diukur dari seberapa mulus jalan yang kita lalui, melainkan seberapa teguh kita bangkit dari kesedihan dan seberapa besar cinta yang kita bawa dalam setiap langkah perjuangan.
Anggun telah membuktikan, duka bisa membuat kita tumbang, tapi kasih sayang keluarga akan membuat kita terbang.
Selamat atas gelar sarjananya, Anggun Julia Andriami. Semoga langkahmu ke depan semakin membawa manfaat dan kebahagiaan bagi keluarga dan masyarakat banyak.

.png)