Advertisement
Pekalongan: Di tengah tantangan krisis literasi dan ketimpangan struktural yang membayangi dunia pendidikan, tiga delegasi mahasiswa Prodi Ilmu Hukum FHISIP Unram sukses membuktikan ketajaman nalar akademik mereka di kancah nasional. Tim yang beranggotakan Jeni Aulia Sastianingrum, Arsy Zulhakim, dan Siti Maream berhasil menyabet gelar Juara II pada Lomba Debat Nasional dalam ajang Festival Tarbiyah dan Seminar Tarbiyah 2026.
Kompetisi bergengsi tingkat nasional ini diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Rangkaian lomba debat berlangsung secara luring pada 19–20 Juni 2026.
Mengusung tema besar "Paradoks Pendidikan Modern: Menggugat Ketimpangan, Teknologi, dan Krisis Literasi", ajang ini dirancang secara khusus untuk mendorong mahasiswa menganalisis persoalan nyata pendidikan di Indonesia. Debat ini bukan sekadar arena adu argumen, melainkan ruang dialektika akademik yang konstruktif untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan memperkuat argumentasi berbasis data.
Kompetisi debat bergengsi berformat Asian Parliamentary System sukses menyajikan adu gagasan yang sengit sejak babak penyisihan hingga mencapai puncaknya. Ajang ini menuntut kedalaman analisis para peserta melalui serangkaian mosi kritis yang disiapkan oleh panitia guna menantang nalar intelektual mereka dalam membedah kebijakan publik. Ketegangan kompetisi mulai memuncak pada babak semifinal, di mana para peserta diuji kemampuannya dalam membedah regulasi pendidikan tinggi lewat mosi penjatuhan sanksi pencabutan izin operasional bagi institusi yang rasio ketersediaan literatur, fasilitas penelitian, dan anggaran perpustakaannya tidak sebanding dengan jumlah mahasiswanya.
Suasana kompetisi semakin memanas di babak Grand Final saat kedua tim terbaik beradu argumen mengenai urgensi alokasi anggaran negara antara pembangunan fisik dan peningkatan mutu sumber daya manusia. Dalam babak penentu tersebut, mosi yang diperdebatkan adalah pengalihan mayoritas anggaran pembangunan infrastruktur fisik berskala besar untuk memperluas cakupan bantuan sosial tunai, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) khusus pendidikan bagi keluarga prasejahtera, guna mengatasi krisis literasi serta ketimpangan kualitas pendidikan. Melalui diskursus akademik yang tajam ini, kompetisi tidak hanya melahirkan pemenang, tetapi juga berhasil menjadi wadah yang kritis dalam menawarkan solusi atas isu-isu krusial nasional.
Atas raihan prestasi ini, tim berhak membawa pulang penghargaan berupa trofi, serta sertifikat penghargaan secara resmi dari pihak penyelenggara.
Prestasi ini diharapkan dapat memantik semangat diskursus akademik di lingkungan kampus FHISIP Unram, sekaligus mengingatkan kembali bahwa kemampuan analitis dan kepekaan sosial adalah senjata utama untuk mengabdikan pengetahuan sejati kepada masyarakat.(sir)

.png)