Advertisement
Lensa Kampus: Edisi Spesial PKKMB Universitas Mataram
MATARAM — Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram (15/08) berlangsung meriah, penuh warna, sekaligus menampar realita para peserta. Sorotan utama tertuju pada sesi inspirasi alumni yang diisi langsung oleh Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sekaligus Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) Unram, Hj. Baiq Isvie Rupaidah, S.H., M.H.
Tampil dengan gaya yang tegas, membumi, dan penuh humor, Baiq Isvie sukses memecah keheningan ribuan mahasiswa baru. Ia tidak hanya hadir untuk memberikan sambutan normatif, melainkan menanamkan nilai-nilai luhur kepemimpinan yang langsung ia praktikkan melalui sesi diskusi dua arah.
Kehadiran politisi senior ini dibuka dengan ketegasan yang mengejutkan. Menghadapi audiens yang sibuk mengobrol sendiri, ia tak segan melontarkan teguran edukatif. Sebagai Ketua Umum IKA Unram yang hadir dengan niat tulus untuk berbagi pengalaman, ia meminta mahasiswa untuk tidak menyia-nyiakan forum sesi alumni.
Baginya, syarat mutlak menjadi mahasiswa hukum dan FISIP yang hebat serta calon pemimpin masa depan adalah kemampuan dan kedisiplinan untuk menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu sebelum pandai berbicara.
Kunci Sukses: Restu Orang Tua dan Darurat Integritas Akademik
Dalam orasi motivasinya, Baiq Isvie membagikan kisah pribadinya saat mulai merintis karier sebagai dosen Faultas Hukum Unram pada tahun 1988. Menurutnya, kesuksesan tersebut tidak akan terwujud tanpa doa, bimbingan, dan restu kuat dari orang tuanya. Kecerdasan intelektual tak akan berarti tanpa moral yang baik.
Lebih lanjut, ia memberikan peringatan keras terkait darurat integritas di dunia kampus. "Belajar mulai dengan kejujuran. Tidak usah dapat nilai 100 atau nilai A kalau kita ntontek atau menjiplak (plagiat). Tidak perlu nilai 90 kalau nyontek," tegasnya. Ia melarang keras kebiasaan berbohong dan mengingatkan bahwa masa depan dan karakter dibangun oleh diri sendiri, bukan orang lain.
Ia juga mendorong mahasiswa baru untuk memiliki rasa percaya diri (confidence) dan public speaking yang tajam. Bahkan, ia mengizinkan mahasiswa untuk bersikap kritis di kelas. Jika ada dosen yang bicaranya melenceng dari materi atau penjelasannya tidak masuk akal, mahasiswa diperbolehkan melakukan interupsi dan mengkritik, asalkan tetap menggunakan tata krama dan menolak perlawanan kasar.
Baiq Isvie tidak ingin mahasiswa baru terlena dengan eforia kebebasan kampus. Ia memaparkan sisi gelap yang kerap menghancurkan masa depan mahasiswa, kemalasan dan urusan asmara. Ia menasihati mahasiswa untuk fokus pada literasi (membaca buku) dan menunda urusan pacaran yang berlebihan di awal masa kuliah.
"Urusan cinta serahkan pada Tuhan. Jangan sampai memikirkan pacaran hingga mengganggu waktu tidur, merusak fokus belajar, dan memicu stres," pesannya. Ia mengingatkan realita memilukan di mana banyak mahasiswa berakhir Drop Out (DO) karena malas, jarang hadir kuliah, atau terlalu sibuk dengan urusan percintaan.
Menariknya, ia mengutip filosofi Mahatma Gandhi untuk mengingatkan pentingnya istirahat. Ia meminta mahasiswa untuk tidur lelap di malam hari, mengistirahatkan pikiran sepenuhnya layaknya "mati sejenak", agar tubuh dan mental kembali segar untuk meraih mimpi di esok hari.
Kampus Bebas Pelecehan Seksual
Salah satu sorotan paling vokal dan tegas dalam orasi tersebut adalah isu kejahatan seksual di lingkungan kampus. Ia menuntut agar kampus dipastikan menjadi tempat yang aman dan sepenuhnya terbebas dari kekerasan.
Ia menginstruksikan keberanian bagi para mahasiswa, khususnya mahasiswi, untuk bersuara. Jika terjadi tindakan pelecehan misalnya ada oknum dosen laki-laki yang mengganggu mahasiswi, ataupun sebaliknya korban harus segera berani melaporkannya kepada pihak kampus tanpa rasa takut, bila perlu langsung lapor Satgas di kampus atau lapor ke saya di IKA Unram atau ke DPRD NTB.
Perjuangan Perempuan: Mendobrak Dominasi dan Keberanian Bersuara
Menjelang akhir orasinya, Baiq Isvie memberikan pesan yang sangat mendalam terkait perjuangan dan kepemimpinan perempuan di ranah publik. Menyadari bahwa jalan perempuan untuk menjadi pemimpin sangatlah terjal, ia membagikan pengalaman pribadinya saat harus bertahan dan memimpin di tengah dominasi laki-laki dalam dunia politik.
"Saya pernah menjadi satu-satunya perempuan di antara 64 laki-laki di DPRD. Menjadi pemimpin itu tidak mudah, apalagi bagi seorang perempuan. Karena itu, latihlah diri kalian sejak muda menjadi seorang pemimpin," tegasnya memotivasi para mahasiswi.
Ia juga menyerukan solidaritas yang kuat di antara sesama perempuan untuk saling melindungi. Jika ada mahasiswi yang mengalami ketidakadilan atau menjadi korban pelecehan, ia menuntut mereka untuk tidak bungkam. "Jika adik-adik menemukan hal yang tidak sesuai, sampaikan sikapmu. Jangan diam, terutama perempuan. Laporkan dengan segera, jangan takut. Ada kami semua perempuan-perempuan yang akan membantu kalian," serunya dengan lantang. Pesan ini menegaskan bahwa perjuangan kesetaraan perempuan harus dimulai dari ruang kelas dan keberanian individu.
Kejutan Interaktif: Kedisiplinan, Roti, dan Kuis Ratusan Ribu
Meski sarat muatan serius, sesi ini ditutup dengan suasana yang sangat cair, kocak, dan penuh interaksi. Mengevaluasi kedisiplinan, Baiq Isvie mendapati banyak mahasiswa yang tidak membawa bekal roti sesuai instruksi panitia. Mengetahui hal itu, ia secara spontan membelikan 600 potong roti untuk mahasiswa baru.
Kemeriahan memuncak saat ia menggelar kuis berhadiah uang tunai masing-masing Rp.200.000 kepada puluhan mahasiswa yang berani maju ke depan dan memiliki wawasan seputar kampus. Terjadi momen berebut mikrofon yang mengundang tawa saat mahasiswa ditantang menyebutkan nama lengkap beserta gelar, dari pertanyaan kuis siapa salah satu Guru Besar (Profesor) di kampus, siapa Ketua DPRD periode 2014-2019, siapa nama lengkap Pak Dekan dan siapa Wakil Dekan 3 Fakultas Hukum Unram dengan ciri khas rambut gondrong?
Meski banyak yang keliru menebak nama belakang atau gelar, sesi penutup ini sukses mengajarkan mahasiswa baru tentang pentingnya ketelitian, keberanian tampil, serta urgensi mengenali lingkungan kampus mereka sendiri. Orasi Baiq Isvie sukses membakar semangat, meninggalkan jejak inspirasi bahwa kepemimpinan lahir dari keberanian, kepedulian, dan integritas tanpa kompromi. (akbar)

.png)