Advertisement

MATARAM – Nama Hj. Baiq Isvie Rupaeda, S.H.,
M.H., telah menorehkan tinta emas dalam sejarah perpolitikan dan pendidikan di
Nusa Tenggara Barat (NTB). Dikenal luas sebagai politikus senior yang tangguh, Isvie mencatatkan rekor membanggakan sebagai perempuan pertama yang berhasil
menduduki kursi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTB.
Namun,
jauh sebelum memegang palu pimpinan di gedung parlemen, Isvie memiliki akar
yang sangat kuat di dunia pendidikan dan akademik, khususnya di Fakultas Hukum Universitas
Mataram (Unram).
Latar
Belakang Akademis yang Kuat
Kapasitas
Isvie dalam memimpin dan merumuskan regulasi daerah tidak lepas dari latar
belakang keilmuannya. Isvie merupakan alumni kebanggaan Fakultas Hukum
Universitas Mataram. Dedikasinya terhadap ilmu hukum dibuktikan dengan
penyelesaian pendidikan tingginya hingga meraih gelar Magister (S2) Ilmu Hukum
di almamater yang sama.
Kiprah mentereng Isvie di kancah politik tidak lantas membuatnya melupakan akar akademisnya. Sebagai alumni Fakultas Hukum Universitas Mataram, ia mendapatkan kepercayaan penuh dari para kolega akademisnya untuk menahkodai Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unram.
Sebagai Ketua IKA Unram, Isvie membuktikan bahwa kepemimpinannya melampaui sekat-sekat politik praktis. Posisi ini menempatkannya sebagai figur strategis yang mampu menyinergikan potensi ribuan alumni Unram dengan program-program pembangunan daerah.
Dari
Mimbar Akademik Menuju Panggung Politik
Kiprah
Isvie tidak hanya sebatas di bangku kuliah. Sebelum memantapkan langkah dan
berkiprah penuh di gelanggang politik praktis, ia mendedikasikan dirinya
sebagai tenaga pendidik. Isvie tercatat pernah mengabdi sebagai dosen di
almamaternya, Fakultas Hukum Unram.
Pengabdiannya
di mimbar akademik tersebut berlangsung cukup panjang, yakni selama 16 tahun,
mulai dari tahun 1988 hingga tahun 2004. Pengalaman belasan tahun sebagai
akademisi inilah yang turut membentuk karakter kritis dan wawasan hukumnya yang
tajam, yang kelak menjadi modal utamanya saat bergelut dengan berbagai dinamika
legislasi dan kebijakan di parlemen Provinsi NTB.
Transisi
karir dari seorang akademisi tulen menjadi tokoh politik papan atas di NTB
menjadikan Isvie sebagai sosok srikandi yang paket lengkap seorang
pendidik yang mengayomi sekaligus legislator yang visioner.
Jalan
Politik Sosok Perempuan NTB
Keputusan
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar kembali menempatkan Isvie di kursi Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk periode
2024–2029. Penetapan ini bukan sekadar rutinitas administratif kepartaian,
melainkan penegas rekor politik, Isvie adalah perempuan pertama dan terlama
yang memegang palu pimpinan di gedung dewan Udayana sejak 2016.
Dalam
perjalanan politik NTB, sosok Isvie merepresentasikan lintasan sejarah yang
panjang. Ia adalah saksi sekaligus aktor yang telah berjejaring sejak era Orde
Baru hingga melewati enam pergantian presiden di masa Reformasi.
Kultur
Membaca dan Jalan Keluar dari Birokrasi
Lahir
di Selong, Lombok Timur pada 1 September 1962, Isvie tumbuh dalam persilangan
kultur politik dan pendidikan. Ayahnya, Lalu Muhlisin, merupakan politikus
kawakan yang pernah menjabat sebagai Bupati Lombok Timur. Sementara itu,
ibunya, Baiq Zubaedah, adalah seorang pendidik. Menariknya, dari 14 bersaudara
di keluarga besar tersebut, hanya Isvie yang mewarisi insting politik sang
ayah.
Karakter
keras dan disiplin Isvie dibentuk melalui literasi. Sejak duduk di bangku
Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), sang ayah
mewajibkannya membaca majalah Tempo dan buku-buku biografi tokoh dunia
setiap hari. Kebiasaan ini menumbuhkan wawasan kritis yang kelak berguna saat
ia merumuskan kebijakan.
Secara
akademik, Isvie memiliki akar keilmuan yang kuat di bidang hukum. Setelah lulus
dari SMA Negeri 1 Selong, ia menamatkan pendidikan sarjana (S1) dan magister
(S2) Ilmu Hukum di Universitas Mataram (Unram).
Politik
bukanlah rute pertamanya. Isvie muda pernah merajut asa menjadi Pegawai Negeri
Sipil (PNS) dengan mengabdi sebagai tenaga honorer di Kantor Camat Selong.
Namun, ia lekas dihinggapi kebosanan atas rutinitas birokrasi yang kaku. Atas
dorongan ibunya, ia banting setir menjadi dosen pada tahun 1988. Dari mimbar
akademik inilah, ruang geraknya meluas. Ia mulai berpraktik sebagai konsultan
hukum, mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan perlahan terseret ke
pusaran pergerakan politik.
Jatuh
Bangun di Panggung Elektoral
Kendaraan
politik pertamanya adalah Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), sayap
organisasi Golkar. Kegelisahannya atas minimnya representasi perempuan di ruang
publik membawanya pada penugasan sebagai Anggota MPR RI periode 1999–2004.
Setelah
masa tugasnya di Senayan berakhir, ia memutuskan mundur sepenuhnya dari profesi
dosen dan konsultan hukum. Namun, jalan elektoral tak selalu mulus. Isvie
sempat menelan pil pahit saat gagal dalam pencalonan Anggota DPR RI pada Pemilu
2004 dan 2009.
Dua
kali gagal menembus Senayan tak mematikan langkah politiknya. Isvie memutar
haluan ke politik tingkat daerah pada Pemilu 2014. Bermodal jejaring partai,
trah keluarga, serta modal sosialnya saat menjadi anggota Majelis Pembina
Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lombok Timur (2011–2013), ia
lolos ke DPRD NTB. Pada Pemilu 2019, mempertahankan kursinya dari Daerah
Pemilihan NTB 3 dengan meraup 18.634 suara, menjadikannya satu-satunya
politikus perempuan petahana yang bertahan.
Puncak
karier legislatifnya terjadi pada 15 Juli 2016, saat ia dilantik menjadi Ketua
DPRD NTB menggantikan Umar Said. Posisi tersebut terus dipertahankannya hingga
Pemilu 2024, membawanya turut berkiprah di level nasional sebagai Wakil Ketua
II Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia (ADPSI).
Sebagai pimpinan legislatif berlatar belakang magister hukum, kepemimpinan Isvie diwarnai oleh intervensinya pada berbagai regulasi dan dinamika hukum daerah.
Di luar urusan regulasi dan palu sidang, Isvie memiliki perhatian khusus pada ranah olahraga dengan memimpin Pengurus Provinsi Persatuan Cricket Indonesia (PCI) NTB, yang kini menargetkan perolehan medali emas pada PON 2028.
Bagi Isvie, politik yang telah mendarah daging selama puluhan tahun tak ubahnya siklus alam. Berbekal jam terbangnya, ia memandang dinamika dan intrik dengan ketenangan.
Ia
meyakini bahwa setelah gemuruh badai politik yang memekakkan telinga, akan
selalu ada ruang bagi senja yang lembut. Perdebatan boleh memanas di ruang
sidang, namun akan mereda saat titik temu dari perbedaan itu dipahami. Politik,
dalam kacamata Isvie, ibarat sungai yang mengalir ke samudra penuh riak,
membawa cerita silih berganti, namun bermuara pada satu ketetapan harapan untuk
kesejahteraan publik.
Melawan
Lotre Alam
Dalam
dunia sosiologi dan politik, terdapat istilah "lotre alam" (natural
lottery) sebuah kondisi bawaan yang tidak bisa dipilih saat seseorang
lahir, seperti gender, struktur keluarga, hingga probabilitas nasib, yang kerap
kali menjadi garis batas kesuksesan. Namun, bagi Isvie batasan struktural tersebut bukanlah takdir yang harus diterima,
melainkan probabilitas yang bisa diretas.
Politikus
senior Partai Golkar ini telah membuktikan diri sebagai "Srikandi"
yang berhasil membalikkan lotre alam tersebut, menjadikannya perempuan pertama
dan terlama yang menduduki kursi Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Mendobrak
Dinding Patriarki di Bumi Gora
Lahir
sebagai perempuan di tengah kultur politik yang sangat maskulin pada era Orde
Baru hingga awal Reformasi, Isvie dihadapkan pada realitas minimnya
representasi perempuan di ruang publik. Di NTB sendiri, sejarah mencatat belum
pernah ada sosok perempuan yang memegang palu pimpinan tertinggi di gedung
parlemen.
Kegelisahan
atas kondisi ini mendorongnya maju sebagai Anggota MPR RI pada periode
1999–2004. Keputusannya meninggalkan zona nyaman sebagai dosen Fakultas Hukum
Universitas Mataram (Unram) yang telah ditekuninya sejak 1988, menjadi titik
awal pembuktiannya. Puncaknya pada 2016, Isvie berhasil melawan probabilitas
gender tersebut dengan dilantik sebagai Ketua DPRD Provinsi NTB, sebuah posisi
yang terus dipertahankannya hingga periode 2024–2029.
Menolak
Kalah pada Nasib Elektoral
Jalan
politik Isvie sama sekali bukan tanpa hambatan. Layaknya politikus yang diuji,
ia pernah dihempas kegagalan pahit, tak hanya sekali, melainkan dua kali
berturut-turut. Ambisinya untuk menembus Senayan sebagai Anggota DPR RI pada
Pemilu 2004 dan 2009 harus kandas.
Banyak
figur politik yang memilih mundur teratur setelah kekalahan beruntun. Namun,
Isvie menolak menyerah pada nasib buruk elektoral. Dengan rasionalitas seorang
akademisi bergelar Magister Hukum, ia menurunkan ego dan memutar haluan
strateginya. Pada Pemilu 2014, ia memutuskan bertarung di tingkat daerah.
Manuver pragmatis dan adaptif ini sukses besar, membawanya lolos ke DPRD NTB
dan secara konsisten mempertahankan kursinya sebagai petahana tak terkalahkan
dari Daerah Pemilihan NTB 3.
Melalui
rekam jejak panjangnya, Isvie telah menunjukkan bahwa nasib bawaan
dan batasan kultural dapat ditaklukkan melalui ketekunan, literasi, dan
adaptasi strategi yang cerdas. Ia bukan sekadar politikus perempuan di
parlemen, melainkan arsitek bagi jalan karirnya sendiri yang sukses melawan
"lotre alam" sehingga sosoq Isvie
oleh rekan sejawatnya di DPRD NTB sering berseloroh Isvie dijuluki sebagai "perempuan sakti tiada lawan."
Riwayat
Pendidikan
Isvie
menyelesaikan seluruh jenjang pendidikannya di NTB dan memiliki latar belakang
keilmuan yang kuat di bidang hukum.
- Pendidikan
Dasar: SD Negeri Pancor
- Pendidikan
Menengah Pertama: SMP Negeri 1 Selong
- Pendidikan
Menengah Atas: SMA Negeri 1 Selong
- Pendidikan
Tinggi:
- Sarjana
Hukum (S1) Universitas Mataram
- Magister
Hukum (S2) Universitas Mataram
Karier
Awal: Dari Honorer hingga Akademisi
Sebelum
terjun ke dunia politik, Isvie memiliki cita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil
(PNS).
- Tenaga
Honorer: Pernah mengabdi di Kantor Camat Selong.
- Dosen:
Merasa jenuh dengan rutinitas honorer, ia banting setir menjadi akademisi
pada tahun 1988 atas dorongan ibunya.
- Praktisi
dan Aktivis: Aktif sebagai konsultan hukum dan mendirikan Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) yang menjadi gerbang awalnya melirik isu-isu sosial dan
politik.
Sepak
Terjang di Panggung Politik
Karier
politik Isvie bermula saat ia bergabung dengan Angkatan Muda Pembaharuan
Indonesia (AMPI), organisasi sayap Partai Golkar.
- Anggota
MPR RI (1999–2004): Kepercayaan pertamanya di tingkat nasional yang
didorong oleh kepeduliannya terhadap minimnya ruang politik bagi
perempuan.
- Fase
Kegagalan Nasional: Sempat mencalonkan diri sebagai Anggota DPR RI pada
Pemilu 2004 dan 2009 melalui Partai Golkar, namun gagal melenggang ke
Senayan.
- Anggota
DPRD NTB (2014–2019): Kegagalan di pusat membuatnya fokus ke daerah.
Dengan memaksimalkan jaringan partai, keluarga, dan organisasi (termasuk
posisinya di Majelis Pembina Cabang PMII Lombok Timur 2011–2013), ia
sukses duduk di parlemen NTB.
- Pemilu
2019: Ia kembali terpilih dari Daerah Pemilihan NTB 3 (Lombok Timur A)
dengan meraup 18.634 suara, menjadikannya satu-satunya politikus perempuan
petahana yang berhasil kembali ke Udayana (Gedung DPRD NTB).
Mencetak
Sejarah sebagai Ketua DPRD NTB
- Periode
2016–2019: Dilantik pada 15 Juli 2016 menggantikan Umar Said,
menjadikannya perempuan pertama yang menjadi Ketua DPRD Provinsi NTB.
- Periode
2019–2024: Kembali memimpin parlemen pasca-Pemilu 2019. Misinya adalah
membangun "NTB Gemilang" melalui hubungan legislatif-eksekutif
yang solid.
- Periode
2024–2029: Kembali ditunjuk secara resmi oleh DPP Partai Golkar untuk
memegang palu pimpinan DPRD Provinsi NTB. Penetapan pada periode ketiga
ini mengukuhkan rekornya sebagai politikus perempuan pertama sekaligus
terlama yang menduduki kursi pimpinan tertinggi di parlemen Bumi Gora
sejak 2016.
- Kiprah
Nasional: Terpilih sebagai Wakil Ketua II Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh
Indonesia (ADPSI) periode 2019–2024.
.png)