Iklan

Advertisement
LAWGOS.ID
Criminal Law Study
Kamis, 25 Juni 2026, Juni 25, 2026 WIB
Last Updated 2026-07-04T07:18:35Z
ALUMNIBERITAHOMEHUKUM

Dari Fakultas Hukum Unram ke Panggung Politik: Rekam Jejak Srikandi Parlemen Bumi Gora

Advertisement
[ ALUMNI FAKULTAS HUKUM  UNRAM ]


MATARAM – Nama Hj. Baiq Isvie Rupaeda, S.H., M.H., telah menorehkan tinta emas dalam sejarah perpolitikan dan pendidikan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dikenal luas sebagai politikus senior yang tangguh,  Isvie mencatatkan rekor membanggakan sebagai perempuan pertama yang berhasil menduduki kursi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTB.

 

Namun, jauh sebelum memegang palu pimpinan di gedung parlemen, Isvie memiliki akar yang sangat kuat di dunia pendidikan dan akademik, khususnya di Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram).

 

Latar Belakang Akademis yang Kuat

Kapasitas Isvie dalam memimpin dan merumuskan regulasi daerah tidak lepas dari latar belakang keilmuannya.  Isvie merupakan alumni kebanggaan Fakultas Hukum Universitas Mataram. Dedikasinya terhadap ilmu hukum dibuktikan dengan penyelesaian pendidikan tingginya hingga meraih gelar Magister (S2) Ilmu Hukum di almamater yang sama.


Kiprah mentereng Isvie di kancah politik tidak lantas membuatnya melupakan akar akademisnya. Sebagai alumni Fakultas Hukum Universitas Mataram, ia mendapatkan kepercayaan penuh dari para kolega akademisnya untuk menahkodai Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unram.


Sebagai Ketua IKA Unram, Isvie membuktikan bahwa kepemimpinannya melampaui sekat-sekat politik praktis. Posisi ini menempatkannya sebagai figur strategis yang mampu menyinergikan potensi ribuan alumni Unram dengan program-program pembangunan daerah.

 

Dari Mimbar Akademik Menuju Panggung Politik

Kiprah Isvie tidak hanya sebatas di bangku kuliah. Sebelum memantapkan langkah dan berkiprah penuh di gelanggang politik praktis, ia mendedikasikan dirinya sebagai tenaga pendidik. Isvie tercatat pernah mengabdi sebagai dosen di almamaternya, Fakultas Hukum Unram.

 

Pengabdiannya di mimbar akademik tersebut berlangsung cukup panjang, yakni selama 16 tahun, mulai dari tahun 1988 hingga tahun 2004. Pengalaman belasan tahun sebagai akademisi inilah yang turut membentuk karakter kritis dan wawasan hukumnya yang tajam, yang kelak menjadi modal utamanya saat bergelut dengan berbagai dinamika legislasi dan kebijakan di parlemen Provinsi NTB.

 

Transisi karir dari seorang akademisi tulen menjadi tokoh politik papan atas di NTB menjadikan  Isvie sebagai sosok srikandi yang paket lengkap seorang pendidik yang mengayomi sekaligus legislator yang visioner.

 

Jalan Politik Sosok Perempuan NTB

Keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar kembali menempatkan Isvie di kursi Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk periode 2024–2029. Penetapan ini bukan sekadar rutinitas administratif kepartaian, melainkan penegas rekor politik, Isvie adalah perempuan pertama dan terlama yang memegang palu pimpinan di gedung dewan Udayana sejak 2016.

 

Dalam perjalanan politik NTB, sosok Isvie merepresentasikan lintasan sejarah yang panjang. Ia adalah saksi sekaligus aktor yang telah berjejaring sejak era Orde Baru hingga melewati enam pergantian presiden di masa Reformasi.

 

Kultur Membaca dan Jalan Keluar dari Birokrasi

Lahir di Selong, Lombok Timur pada 1 September 1962, Isvie tumbuh dalam persilangan kultur politik dan pendidikan. Ayahnya, Lalu Muhlisin, merupakan politikus kawakan yang pernah menjabat sebagai Bupati Lombok Timur. Sementara itu, ibunya, Baiq Zubaedah, adalah seorang pendidik. Menariknya, dari 14 bersaudara di keluarga besar tersebut, hanya Isvie yang mewarisi insting politik sang ayah.

 

Karakter keras dan disiplin Isvie dibentuk melalui literasi. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), sang ayah mewajibkannya membaca majalah Tempo dan buku-buku biografi tokoh dunia setiap hari. Kebiasaan ini menumbuhkan wawasan kritis yang kelak berguna saat ia merumuskan kebijakan.

 

Secara akademik, Isvie memiliki akar keilmuan yang kuat di bidang hukum. Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Selong, ia menamatkan pendidikan sarjana (S1) dan magister (S2) Ilmu Hukum di Universitas Mataram (Unram).

 

Politik bukanlah rute pertamanya. Isvie muda pernah merajut asa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan mengabdi sebagai tenaga honorer di Kantor Camat Selong. Namun, ia lekas dihinggapi kebosanan atas rutinitas birokrasi yang kaku. Atas dorongan ibunya, ia banting setir menjadi dosen pada tahun 1988. Dari mimbar akademik inilah, ruang geraknya meluas. Ia mulai berpraktik sebagai konsultan hukum, mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan perlahan terseret ke pusaran pergerakan politik.

 

Jatuh Bangun di Panggung Elektoral

Kendaraan politik pertamanya adalah Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), sayap organisasi Golkar. Kegelisahannya atas minimnya representasi perempuan di ruang publik membawanya pada penugasan sebagai Anggota MPR RI periode 1999–2004.

 

Setelah masa tugasnya di Senayan berakhir, ia memutuskan mundur sepenuhnya dari profesi dosen dan konsultan hukum. Namun, jalan elektoral tak selalu mulus. Isvie sempat menelan pil pahit saat gagal dalam pencalonan Anggota DPR RI pada Pemilu 2004 dan 2009.

 

Dua kali gagal menembus Senayan tak mematikan langkah politiknya. Isvie memutar haluan ke politik tingkat daerah pada Pemilu 2014. Bermodal jejaring partai, trah keluarga, serta modal sosialnya saat menjadi anggota Majelis Pembina Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lombok Timur (2011–2013), ia lolos ke DPRD NTB. Pada Pemilu 2019, mempertahankan kursinya dari Daerah Pemilihan NTB 3 dengan meraup 18.634 suara, menjadikannya satu-satunya politikus perempuan petahana yang bertahan.

 

Puncak karier legislatifnya terjadi pada 15 Juli 2016, saat ia dilantik menjadi Ketua DPRD NTB menggantikan Umar Said. Posisi tersebut terus dipertahankannya hingga Pemilu 2024, membawanya turut berkiprah di level nasional sebagai Wakil Ketua II Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia (ADPSI).

 

Sebagai pimpinan legislatif berlatar belakang magister hukum, kepemimpinan Isvie diwarnai oleh intervensinya pada berbagai regulasi dan dinamika hukum daerah.

 

Di luar urusan regulasi dan palu sidang, Isvie memiliki perhatian khusus pada ranah olahraga dengan memimpin Pengurus Provinsi Persatuan Cricket Indonesia (PCI) NTB, yang kini menargetkan perolehan medali emas pada PON 2028.

 

Bagi Isvie, politik yang telah mendarah daging selama puluhan tahun tak ubahnya siklus alam. Berbekal jam terbangnya, ia memandang dinamika dan intrik dengan ketenangan.

 

Ia meyakini bahwa setelah gemuruh badai politik yang memekakkan telinga, akan selalu ada ruang bagi senja yang lembut. Perdebatan boleh memanas di ruang sidang, namun akan mereda saat titik temu dari perbedaan itu dipahami. Politik, dalam kacamata Isvie, ibarat sungai yang mengalir ke samudra penuh riak, membawa cerita silih berganti, namun bermuara pada satu ketetapan harapan untuk kesejahteraan publik.

 

Melawan Lotre Alam

Dalam dunia sosiologi dan politik, terdapat istilah "lotre alam" (natural lottery) sebuah kondisi bawaan yang tidak bisa dipilih saat seseorang lahir, seperti gender, struktur keluarga, hingga probabilitas nasib, yang kerap kali menjadi garis batas kesuksesan. Namun, bagi  Isvie batasan struktural tersebut bukanlah takdir yang harus diterima, melainkan probabilitas yang bisa diretas.

 

Politikus senior Partai Golkar ini telah membuktikan diri sebagai "Srikandi" yang berhasil membalikkan lotre alam tersebut, menjadikannya perempuan pertama dan terlama yang menduduki kursi Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

 

Mendobrak Dinding Patriarki di Bumi Gora

Lahir sebagai perempuan di tengah kultur politik yang sangat maskulin pada era Orde Baru hingga awal Reformasi, Isvie dihadapkan pada realitas minimnya representasi perempuan di ruang publik. Di NTB sendiri, sejarah mencatat belum pernah ada sosok perempuan yang memegang palu pimpinan tertinggi di gedung parlemen.

 

Kegelisahan atas kondisi ini mendorongnya maju sebagai Anggota MPR RI pada periode 1999–2004. Keputusannya meninggalkan zona nyaman sebagai dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) yang telah ditekuninya sejak 1988, menjadi titik awal pembuktiannya. Puncaknya pada 2016, Isvie berhasil melawan probabilitas gender tersebut dengan dilantik sebagai Ketua DPRD Provinsi NTB, sebuah posisi yang terus dipertahankannya hingga periode 2024–2029.

 

Menolak Kalah pada Nasib Elektoral

Jalan politik Isvie sama sekali bukan tanpa hambatan. Layaknya politikus yang diuji, ia pernah dihempas kegagalan pahit, tak hanya sekali, melainkan dua kali berturut-turut. Ambisinya untuk menembus Senayan sebagai Anggota DPR RI pada Pemilu 2004 dan 2009 harus kandas.

 

Banyak figur politik yang memilih mundur teratur setelah kekalahan beruntun. Namun, Isvie menolak menyerah pada nasib buruk elektoral. Dengan rasionalitas seorang akademisi bergelar Magister Hukum, ia menurunkan ego dan memutar haluan strateginya. Pada Pemilu 2014, ia memutuskan bertarung di tingkat daerah. Manuver pragmatis dan adaptif ini sukses besar, membawanya lolos ke DPRD NTB dan secara konsisten mempertahankan kursinya sebagai petahana tak terkalahkan dari Daerah Pemilihan NTB 3.

 

Melalui rekam jejak panjangnya,  Isvie telah menunjukkan bahwa nasib bawaan dan batasan kultural dapat ditaklukkan melalui ketekunan, literasi, dan adaptasi strategi yang cerdas. Ia bukan sekadar politikus perempuan di parlemen, melainkan arsitek bagi jalan karirnya sendiri yang sukses melawan "lotre alam" sehingga sosoq Isvie oleh rekan sejawatnya di DPRD NTB sering berseloroh Isvie dijuluki sebagai "perempuan sakti tiada lawan."

 

Riwayat Pendidikan

Isvie menyelesaikan seluruh jenjang pendidikannya di NTB dan memiliki latar belakang keilmuan yang kuat di bidang hukum.

  • Pendidikan Dasar: SD Negeri Pancor
  • Pendidikan Menengah Pertama: SMP Negeri 1 Selong
  • Pendidikan Menengah Atas: SMA Negeri 1 Selong
  • Pendidikan Tinggi:
    • Sarjana Hukum (S1) Universitas Mataram
    • Magister Hukum (S2) Universitas Mataram

 

Karier Awal: Dari Honorer hingga Akademisi

Sebelum terjun ke dunia politik, Isvie memiliki cita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

  • Tenaga Honorer: Pernah mengabdi di Kantor Camat Selong.
  • Dosen: Merasa jenuh dengan rutinitas honorer, ia banting setir menjadi akademisi pada tahun 1988 atas dorongan ibunya.
  • Praktisi dan Aktivis: Aktif sebagai konsultan hukum dan mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menjadi gerbang awalnya melirik isu-isu sosial dan politik.

 

Sepak Terjang di Panggung Politik

Karier politik Isvie bermula saat ia bergabung dengan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), organisasi sayap Partai Golkar.

  • Anggota MPR RI (1999–2004): Kepercayaan pertamanya di tingkat nasional yang didorong oleh kepeduliannya terhadap minimnya ruang politik bagi perempuan.
  • Fase Kegagalan Nasional: Sempat mencalonkan diri sebagai Anggota DPR RI pada Pemilu 2004 dan 2009 melalui Partai Golkar, namun gagal melenggang ke Senayan.
  • Anggota DPRD NTB (2014–2019): Kegagalan di pusat membuatnya fokus ke daerah. Dengan memaksimalkan jaringan partai, keluarga, dan organisasi (termasuk posisinya di Majelis Pembina Cabang PMII Lombok Timur 2011–2013), ia sukses duduk di parlemen NTB.
  • Pemilu 2019: Ia kembali terpilih dari Daerah Pemilihan NTB 3 (Lombok Timur A) dengan meraup 18.634 suara, menjadikannya satu-satunya politikus perempuan petahana yang berhasil kembali ke Udayana (Gedung DPRD NTB).

 

Mencetak Sejarah sebagai Ketua DPRD NTB

  • Periode 2016–2019: Dilantik pada 15 Juli 2016 menggantikan Umar Said, menjadikannya perempuan pertama yang menjadi Ketua DPRD Provinsi NTB.
  • Periode 2019–2024: Kembali memimpin parlemen pasca-Pemilu 2019. Misinya adalah membangun "NTB Gemilang" melalui hubungan legislatif-eksekutif yang solid.
  • Periode 2024–2029: Kembali ditunjuk secara resmi oleh DPP Partai Golkar untuk memegang palu pimpinan DPRD Provinsi NTB. Penetapan pada periode ketiga ini mengukuhkan rekornya sebagai politikus perempuan pertama sekaligus terlama yang menduduki kursi pimpinan tertinggi di parlemen Bumi Gora sejak 2016.
  • Kiprah Nasional: Terpilih sebagai Wakil Ketua II Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia (ADPSI) periode 2019–2024.


Tim Redaksi
 

IKLAN

Advertisement
LAWGOS.ID