Advertisement

(Dosen Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Univeersitas Mataram)
Hampir seabad lalu, seorang filsuf dan kritikus budaya asal Prancis, Julien Benda, menerbitkan sebuah pamflet kebudayaan yang kelak menjadi salah satu rujukan paling tajam dalam membedah tanggung jawab moral kaum pemikir: La Trahison des Clercs (1927). Saya pertama kali membacanya sewaktu masih mahasiswa yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan tajuk Pengkhianatan Kaum Cendekiawan yang diterjemahkan oleh Winarsih P. Arifin.
Setelah sekian lama, saya membaca ulang karya Benda hari ini di tengah riuh rendah lanskap sosial-politik kontemporer terasa seperti menghadapkan cermin retak pada wajah publik kita. Buku ini sebuah peringatan abadi tentang apa yang terjadi ketika ruang sakral pemikiran cendekiawan dikorbankan di altar pragmatisme politik.
Dari ‘Clercs’ Menjadi Agen Praktis
Gagasan utama Benda berakar pada pembagian tegas antara dua kelompok manusia: kaum awam (laïcs) dan kaum intelektual atau cendekiawan (clercs). Secara historis, kata clercs merujuk pada kaum klerus atau agamawan di Abad Pertengahan yang mengabdikan hidup mereka pada hal-hal spiritual dan metafisik, melampaui urusan duniawi.
Dalam konteks modern, Benda memperluas definisi ini untuk mencakup para filsuf, ilmuwan, sastrawan, dan seniman, mereka yang aktivitas utamanya tidak mengejar keuntungan materi atau kekuasaan praktis. Tugas mulia seorang clerc, menurut Benda, adalah mempertahankan nilai-nilai universal yang abstrak: kebenaran, keadilan, dan nalar murni. Sepanjang sejarah, kelompok inilah yang menjadi jangkar moral kemanusiaan. Ketika dunia dikuasai oleh ketamakan dan konflik antarkelompok, kaum clercs berdiri di luar gelanggang untuk mengingatkan manusia akan prinsip-prinsip kebenaran tersebut.
Namun, tesis Benda yang menghentak adalah bahwa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sebuah patahan besar terjadi. Kaum intelektual mulai “turun gunung” bukan untuk menegakkan keadilan universal, melainkan untuk mengadopsi nafsu-nafsu politik kaum awam. Mereka mengorganisasi diri, menyerahkan independensi berpikir mereka, dan menjadi corong bagi kepentingan partisan faksi dan elite politik tertentu, chauvinisme, dst.
Benda menyebut fenomena ini sebagai “pengkhianatan. Kaum cendekiawan tidak lagi menuntun masyarakat menuju kebenaran universal, melainkan menggunakan otoritas intelektual mereka untuk membenarkan, merasionalisasi, dan membakar sentimen kebencian kelompok.
Kritik
Dalam bab-bab yang analitis sekaligus menggugat, Benda membedah bagaimana pengkhianatan ini mewujud dalam bentuk pemujaan utama pada masanya sepertinasionalisme yang berlebihan, sentimen rasial yang memicu konflik horizontal.