Advertisement
Oleh: Widodo Dwi Putro
(Dosen Fakultas Hukum Unram)
Malam
ini, kopiku sudah dingin. Sebagai seorang akademisi, seharusnya aku terbiasa
dengan keraguan. Namun, belakangan ini, keraguan itu terasa seperti dosa …
Aku
sedang gelisah memikirkan garis tipis antara Rezim Kebenaran dan Kebenaran
Rezim.
Keduanya
terdengar mirip, bukan? Seperti saudara kembar yang tertukar di rumah sakit
politik.
Dalam
garis batas yang samar, Rezim Kebenaran ia adalah kumpulan diskursus,
data statistik, standar kesehatan, atau norma ilmiah yang membuat masyarakat
sepakat bahwa “ini adalah hal yang benar untuk dilakukan”. Ia bersifat
sistemik, inheren dalam struktur ilmu pengetahuan.
Sementara
Kebenaran Rezim adalah produk gincu. Ia adalah narasi yang dipoles,
disodorkan dari atas, yang menuntut kepatuhan absolut. Di sini, kebenaran bukan
lagi tentang validitas data, melainkan tentang siapa yang sedang memegang
kekuasaan
Ambil
contoh program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan proyek Koperasi Desa Merah Putih
(KDMP), anak konstitusi yang maha benar dengan segala firmannya. Dalam kacamata
Rezim Kebenaran, MBG adalah sebuah diskursus ilmiah tentang gizi,
stunting, dan kesejahteraan biologis. Data tentang asupan kalori dan masa depan
anak bangsa menjadi “kebenaran” yang tak terbantahkan secara saintifik. Tidak
ada orang waras yang akan menolak pentingnya gizi baik. Itu adalah wacana besar
yang diterima secara universal.
Namun,
ketika program ini diimplementasikan oleh Kebenaran Rezim, maka Makan
Bergizi Gratis bukan lagi sekadar perkara gizi; ia telah menjelma menjadi legitimasi
untuk memperpanjang kekuasaan Rezim. Jika kamu mengkritisi logistiknya,
rantai pasoknya, atau potensi kebocorannya, kamu tidak dianggap sedang
memberikan masukan teknis. Kamu dianggap sedang melawan kebaikan dan kebenaran.
Bahkan, membangkang konstitusi.
Begitu
pula dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Secara diskursif (Rezim
Kebenaran), koperasi adalah soko guru ekonomi, kebenaran klasik yang
disepakati banyak pihak. Namun, ketika KDMP dikemas sebagai satu-satunya model
“kebenaran” ekonomi desa yang harus didukung tanpa syarat, ia berubah menjadi Kebenaran
Rezim.
Rezim
Kebenaran hari ini
terasa seperti pemain catur yang memegang seluruh bidak, sekaligus menulis
aturan mainnya sendiri di ruang rapat tertutup.
Di
sini, Rezim Kebenaran telah mengunci “kebenaran” itu rapat-rapat: bahwa
program mereka adalah satu-satunya jalan menuju kemakmuran, dan siapa pun yang
mengkritik dan menolaknya berarti menolak kemakmuran itu sendiri.
Kegelisahan
inilah yang membunuh tidurku. Apakah tugas akademisi adalah menjadi pendegung
‘zzzzzzzz’… atau pemandu sorak yang membenarkan cara kerja mesin-mesin
kebijakan Rezim itu, atau berani bertanya dan mempertanyakan.
Malam
ini, aku hanya bisa menarik napas panjang. Mungkin, tugas kita bukan untuk
meruntuhkan Rezim, karena Rezim akan selalu ada. Tugas kita, tugas akademisi
yang paling sederhana namun paling berbahaya adalah tetap merawat kemampuan
untuk bertanya dan mempertanyakan: “Apakah ini benar-benar benar, atau
sekadar sedang dibuat agar tampak benar?”
Kopi
ini sudah benar-benar dingin dan aku belum meneguknya. Tapi setidaknya, api
perlawanan di kepalaku tak kunjung padam.

.png)